Doubleklick Me!

Kenaikan harga BBM, Menyelamatkan APBN atau Mencekik rakyat? tahap 1

May 17, 2008 · Leave a Comment

Tepat tangga 23 Mei nanti pemerintah berencana akan menaikkan harga BBM, menurut perkiraan sementara BBM akan naik sekitar 30% dari harga yang sudah ada , sehingga menjada Rp. 6000,- perliter nya. Kebijakan pemerintah ini banyak menuai kecaman dari berbagai kalangan masyarakat, karena dengan meningkatnya harga BBM maka rakyat miskin akan semakin sulit untuk menutupi biaya hidup mereka.

Tidak dipungkiri kenaikan harga BBM dipicu oleh kenaikkan harga minyak mentah global, yang sampai dengan hari ini ( 17 mei 2008 ) telah menyentuh harga 127 dolar/ barrel, rekor harga tertinggi sejak dimulainya kenaikan harga minyak mentah. Oleh karena kenaikkan harga minyak mentah global itulah yang membuat pemerintah memiliki alasan yang kuat untuk menaikkan harga BBM di dalam negeri.

Pemerintah beralasan dengan meningakatnya harga minyak mentah global, pemerintah menanggung beban subsidi BBM yang amat besar, dengan harga premium sekarang ini (Rp.4500,- / liternya) pemerintah sudah mensubsidi Rp. 10.000 / liternya , yang berarti harga sebenarnya premium tanpa subsidi adalah Rp14.500,-/ liter. Subidi itu, menurut Sri Mulyani (Menkeu) adalah beban yang teramat besar sehingga bisa menjebol APBN 2008, karena cadangan devisa tidak mampu unuk menahan gejolak harga minyak tersebut, sementara sebagian besar pengguna aktiv premium adalah kalangan menengah keatas yang memiliki kemampuan finansial untuk membayar harga premium walaupun akan dinaikan.

Namun , pertanyaan besarnya adalah : Apakah pemerintah tidak memilki opsi lain untuk menanggulangi kenaikan harga minyak mentah yang menjadi – jadi ini? Perlu diketahui , konsumsi Indonesia akan minya pertahunnya mencapai kurang lebih 920 ribu – 980 ribu barrel, sedangkan minyak yang dapat diproduksi oleh negara ini hanya sekira 850 ribu barrel pertahun, yang artinya kekurangan 70 ribu – 130 ribu lagi akan kebutuhan minyak nasional mau tidak mau harus mengimpor dari negara luar, dan patut diketahui pula angka produksi minyak negara kita terus menurun sejak 10 tahun terakhir (dulu Indonesia mampu memproduksi 1.200.000 barrel / tahun), yang menurut Menteri ESDM , Pak Purnomo Y adalah “hal yang alamiah” (dikutip dari koran Jawa Pos), saya sungguh tidak mengerti apa maksud dari kata yang “hal yang alamiah” yang dilontarkan pak menteri ini, Apakah alamiah kalau produksi minyak turun terus, Apakah alamiah kalo Pak Purnomo gagal jadi menteri ESDM sehingga ‘impoten’ dalam membuat kebijakan dan mencari solusi untuk meningkatkan produksi dalam negri? Apakah alamiah dimana seharusnya kita menikmati keuntungan dari kenaikan harga minyak namun kenyataannya justru menderita ? Saya sungguh tidak habis pikir.

Sebenarnya ada beberapa opsi lain yang menurut saya dapat digunakan untuk mengurangi beban APBN atau setidaknya meminimalisir tingginya kenaikkan harga BBM dalam negeri, salah satunya adalah dengan mengurangi jumlah pengeluaran negara pada pos – pos yang tidak terlalu mendesak penggunaan anggaranya, Menunda Proyek yang tidak terlalu signifikan atau bahkan mengurangi tunjangan – tunjangan anggota DPR yang terkadang tidak masuk akal; semisal tunjangan kesehatan, tunjangan pembelian jas, tunjangan pendidikan dan lain – lain yang biayanya terus dikeluarkan negara setiap bulannya , terkadang saya tidak habis pikir apakah anggota DPR itu sakit setiap bulannya sehingga harus ada tunjangan kesehatan, apakah anggota DPR harus beli jas tiap bulan, dan apakah gaji anggota DPR tidak cukup untuk sekolah atau menyekolahkan anaknya sehingga perlu tunjangan pendidikan? Seandainya saja tunjangan – tunjangan ini tidak perlu dikeluarkan negara tentu ada banyak uang yang dapat dihemat negara setiap tahunnya.

Categories: Ekonomi · Militer
Tagged: ,

0 responses so far ↓

  • There are no comments yet...Kick things off by filling out the form below.

Leave a Comment